Home

Industri farmasi dalam konteks supply chain terbagi menjadi 4 fase besar. Fase 1: Research & Development, fase dimana formula suatu produk dirancang untuk menghasilkan kekhasiatan suatu obat. Fase 2: Production & Marketing, fase dimana obat mulai diproduksi hingga dipasarkan ke tenaga medis seperti dokter. Fase 3: Distribution, merupakan fase yang menjembatani antara pabrikan hingga retailer seperti Apotek dan Rumah Sakit. Dan terakhir Fase 4: Retail, yaitu fase dimana obat farmasi ini disiapkan untuk diterima oleh pasien.

Tulisan kali ini hanya membahas pada bagian distribusi agar fokus dan tidak kehilangan jejak di tengah artikel. Sementara itu pembahasan mengenai distribusi masih akan tetap menarik, karena dalam literatur manapun seringkali dikatakan bahwa fase material handling merupakan fase yang syarat dengan cost dan tidak memiliki nilai tambah dari produk itu. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak memberikan nilai tambah bukan berarti mengurangi nilai dari produk tersebut. Justru pekerjaan utama dari material handling ini adalah memastikan bahwa produk yang didistribusikan ini tetap dalam kualitas yang sama diterima oleh pasien seperti halnya ketika baru keluar dari pabrik.

Produk farmasi adalah produk yang sangat sensitif dan dipenuhi oleh aturan. Rentan terhadap lingkungan dan apabila sedikit saja terjadi perubahan pada kualitas produk dapat berdampak negatif terhadap “khasiat obat” bahkan adapula yang berubah sifat menjadi “racun”. Karena itu badan WHO mengeluarkan standar distribusi Obat yang tertuang pada GDP WHO Technical Series no.937 annex 5 tahun 2006. Selayaknya seluruh perusahaan distribusi yang melayani obat farmasi memenuhi standar tersebut. Di Indonesia standar tersebut baru mulai diimplementasikan di tahun 2008, dan sekarang mulai banyak perusahaan distribusi yang menggunakan standar tersebut.

Disamping GDP, aturan distribusi obat pun diatur dalam Cara Distribusi Obat yang Benar (CDOB) yang dikeluarkan oleh Badan POM. Dan selama ini CDOB tersebut lah yang menjadi acuan bagi perusahaan distribusi farmasi di Indonesia. Namun BPOM saat ini pun sedang melakukan upgrade dan mengklasifikasikan implementasinya di perusahaan2 distribusi farmasi yang ada di Indonesia.

Pharmaceutical Supply Chain

Berbeda dengan konsep supply chain umum yang sangat mengedepankan responsiveness dan efisiensi. Pada distribusi farmasi yang terdepan seharusnya adalah “Kualitas” dan Responsiveness. Kualitas merupakan hal yang mutlak, karena ini adalah produk Obat yang memiliki fungsi untuk “penyembuhan”, bayangkan jika kualitasnya rusak. Disamping mengurangi khasiat, obat yang rusak bahkan bisa menjadi racun bagi tubuh.

Demand Management. Namun demikian produk farmasi memiliki formula tersendiri yang menjadi celah sehingga para praktisi bisa meningkatkan efisiensi dalam distribusi obat. Misalnya saja, obat yang dibagi menjadi dua klasifikasi yaitu obat akut dan obat kronis. Obat akut biasanya adalah kelompok obat yang berfungsi untuk pengobatan sekali terapi, misalnya saja pasien demam berdarah, tifus, dan sebagainya. Sementara obat kronis diperuntukkan untuk terapi terus menerus, misalnya saja pasien hipertensi, kolesterol, ataupun gula yang harus mengkonsumsi obat tersebut secara jangka panjang. Dan biasanya untuk kategori kronis ini terjadinya perpindahan merek produk cenderung minimal, karena sangat tergantung pada faktor rekomendasi dokter dan kecocokan. Dengan kata lain, kategori obat kronis cendrung lebih mudah untuk diperkirakan permintaannya ketimbang obat akut.

Sepanjang rantai distribusi juga terjadi fenomena yang menari di Indonesia, hal ini sudah pernah dibahas pada artikel sebelumnya mengenai “Mengenal Industri Farmasi”. Obat-obat dengan merek populer tidak hanya ditemui pada saluran resmi seperti Apotek dan Rumah Sakit, melainkan juga di Toko Obat yang notabene tidak memiliki Apoteker. Hal tersebut ilegal dan jika ketahuan artinya merupakan tindakan pelanggaran hukum. Tapi pasar di Indonesia sepertinya masih jauh dari kata “Bersih”. Akibatnya muncul istilah “Grey Market”, yaitu obat resep yang ditemui di toko obat, dijual langsung oleh dokter (dispensing), dan sebagainya.

Grey Market cenderung menawarkan harga yang biasanya lebih murah, dengan beragam sumber. Ada importir langsung ilegal dari luar negeri, namun yang sering ditemui sih biasanya diperoleh dari bocoran “Pedagang nakal” yang membeli dalam partai besar dengan diskon yang besar pula.

Keagenan Distribusi

Pabrikan obat biasanya menunjuk distributor nasional untuk menjangkau Apotek dan Rumah Sakit. 10 – 20 tahun yang lalu para pabrikan yang seringkali disebut sebagai Principal cenderung menetapkan distributor tunggal. Berbeda dengan produk konsumer yang sudah mengarah pada multi-distributor. Penunjukkan distributor tunggal ditengarai karena principal menginginkan bentuk kerjasama yang sederhana dan tidak perlu mengurus beberapa distributor. Disamping itu, jumlah titik distribusi yang harus dijangkau oleh distributor masih sedikit dibandingkan produk-produk konsumer.

Distributor nasional disamping menjual langsung ke retailer, ternyata juga masih membutuhkan Pedagang Besar Farmasi (PBF) lokal dengan daya jangkau yang lebih terbatas. Kebutuhan akan PBF lokal ini lantaran daya jangkau yang terbatas misal adanya kebutuhan untuk menjangkau daerah-daerah tertentu dimana Distributor Nasional ini belum memiliki cabang / kantor perwakilan.

Namun keberadaan PBF lokal ini ternyata juga memiliki peran lain dalam upaya menyalurkan produk ke “Grey Market” yang disebutkan tadi. Mereka ini biasanya jarang tersentuh oleh BPOM ketimbang para distributor nasional yang pengawasannya lebih ketat. Disamping Grey Market, PBF lokal ini akhirnya juga memakan titik distribusi dari distribusi nasional. Akibatnya di tingkat retailer seperti Apotek jamak ditemui bahwa obat yang sama bisa diperoleh lebih dari satu distributor. Bahkan harga yang diperoleh dari PBF lokal ini seringkali lebih murah. Wajar saja, karena distributor nasional biasanya memberikan diskon yang tinggi kepada PBF lokal. Sungguh merupakan area yang sulit untuk dikendalikan.

Pasar Distribusi Farmasi

Saat ini kurang lebih terdapat 12.000an Apotek, 1300an Rumah Sakit, dan 2300an Pedagang Besar Farmasi (PBF). Apotek sendiri ada yang memiliki praktek dokter dan ada yang berdiri independent (pasif menerima resep dari dokter praktek tempat lain). Apotek pun sudah mengarah pada modernisasi bisnis, membentuk group, franchise, layanan 24 jam, dan sebagainya.

Singkatnya pasar farmasi di Indonesia semakin bertumbuh dan semakin kompetitif paling tidak ini dari sisi penyedia layanan. Sementara dari sisi demand, Pemerintah pun terus menggalakkan program asuransi Nasional dengan beragam model seperti Jamkesmas / Jamkesda, SJSN, inHealth, dan terus berkembang. Disadari atau tidak pasar obat akan semakin tumbuh dari sektor asuransi, wajar saja karena saat ini biaya pengobatan tergolong mahal. Sehingga disamping infrastruktur dan demand, industri ini juga terus diedukasi oleh perusahaan asuransi swasta maupun nasional.

Inventory Planning

Pada akhirnya ini merupakan bagian yang sering menjadi “Korban” dari fleksibilitas demand produk farmasi. Walau secara teori beberapa produk bisa diprediksi jumlah permintaannya, namun karena terdapat aktivitas promosi dari Principal mengakibatkan pembelian suatu produk menjadi seasonal dan fluktuatif.

Faktor produk obat komoditi juga sangat besar, yang seringkali mengakibatkan terjadinya penumpukan penjualan di akhir bulan. Resource yang sangat besar terfokus pada hari-hari terakhir untuk closing penjualan, mulai dari sisi sales hingga bagian gudang yang menyiapkan barang.

Kemudian pertanyaanya adalah apakah ada peluang untuk melakukan perbaikan? Sangat ada … diperlukan ketelatenan, komitmen, kesabaran, kreatifitas, dan agresifitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s